Guitar | Kumpulan Cerpen


Cerpen Esswe Zone Kali ini berjudul -Guitar-
Penulis : Desty Rista A

Lulus. Satu kata ajaib yang mampu membuat perasaan Lea meledak pagi itu. Pagi yang indah di hari kelulusan semua siswa-siswi SMAN 12 Bogor. Wajah Lea masih memancarkan ekspresi bahagia di antara kerumunan teman-temannya yang masih sibuk berselebrasi. Lea melewati kerumunan dengan langkah cepat sambil menggenggam sebuah amplop berwarna biru yang telah dia siapkan tadi malam. Sebuah amplop yang berisi curahan perasaannya kepada Fino. Ketua OSIS yang menjadi idola banyak siswi SMAN 12.
Lea tahu semua resiko saat dia menaruh hati pada Fino. Termasuk resiko terburuk yang mungkin akan dia terima. Yaitu penolakan.
"Aku harus memberikan ini padanya. Entah bagaimana caranya. Dan entah bagaimana reaksinya. Aku tidak peduli. Aku tidak ingin lebih lama memendam perasaan ini. Ini kesempatan terakhirku." batin Lea setelah pandangan matanya berhasil menangkap sosok Fino. Cowok itu terlihat sedang bersama dengan teman-temannya. Lea melangkah cepat ke arahnya.
***
(Satu tahun kemudian)
Di antara puluhan mahasiswi yang hampir memenuhi setengah ruang musik, ada satu cewek yang hanya duduk manis di sebuah kursi pada salah satu sisi ruangan cukup luas itu.
"Lea, kamu kenapa hanya diam saja? Ayo kemari, ikut bermain dengan kami." ajak Siska. Cewek itu tampak percaya diri dengan gitarnya.
"Aku tidak bisa. Aku lihat kalian saja." jawab Lea. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Lea dari belakang. Cewek itu sontak menengok.
"Lee, aku sudah mencarimu kemana-mana. Ternyata kamu disini." kata Gisel. Teman dekat Lea sejak SMA.
"Iya Sel. Ada apa?" tanya Lea sambil menarik Gisel untuk duduk di sampingnya.
"Ini tentang pekerjaan yang kamu cari. Aku dapat informasi untukmu." jawab Gisel. Lea mengembangkan senyumnya.
"Kamu tahu temanku yang bernama Vera kan? Kemarin dia menemuiku," kata Gisel.
"Lalu dia bercerita tentang adiknya yang sekarang kelas 12 SMA dan 3 bulan lagi akan menempuh UN. Vera membutuhkan seseorang yang bisa mengajarkan Matematika pada adiknya. Dan aku langsung teringat kamu." lanjut Gisel. Lea tampak sangat berantusias.
Guitar
***
Lea melangkah hati-hati mendekati pagar sebuah rumah bergaya klasik modern di depannya. Memastikan rumah itu sesuai dengan alamat yang telah di berikan Gisel.
"Apa benar ini rumah Vera?" tanya Lea pada satpam yang menghampirinya.
"Iya benar. Non Vera sudah menunggu." jawab satpam itu sambil membukakan pagar rumah itu lebih lebar.
Lea melangkah masuk sambil melihat sekeliling bangunan di depannya itu. Teras rumah model klasik berlantai granite tile dengan tekstur kasar. Untuk bagian carport, terdapat batu alam yang dikombinasikan dengan koral sikat. Itu membuat suasana terlihat lebih natural. Lea memencet bel rumah itu dengan yakin. Hanya satu menit menunggu, pintu sudah dibuka dari dalam. Seseorang menyambutnya. Vera.
***
Sore pertama Lea untuk mengajar adik Vera. Ada perasaan sedikit nervous dalam hati. Tetapi tidak dia tunjukan ketika telah memasuki rumah ini. Lea duduk di ruang tamu dengan manis. Pembantu Vera telah meyuruhnya untuk menunggu Evan hampir 5 menit. Bi Minah bilang Evan baru saja pulang dan masih berada di dalam kamar. Lea mengingat obrolan pertamanya dengan Vera kemarin berjalan baik,maka dari itu mulai hari ini Lea diterima sebagai guru les adik Vera- bahkan sebelum adiknya bertemu dengan Lea.
Dan hari inilah saatnya.
"Ehm" seseorang berdeham. Lea buru-buru menoleh ke arah sumber suara dan bangkit berdiri.
"Hallo." sapa Lea kepada sosok di hadapannya.
"Jadi kamu yang mau mengajarkanku matematika? Lalu, aku bisa memanggilmu apa?" tanya Evan sambil berjalan mendekat.
"Kak Lea. Ya, mungkin kamu bisa memanggilku seperti itu. Dan aku bisa memanggilmu apa?" jawab Lea. Evan duduk di samping Lea yang masih berdiri.
"Tidak. Aku tidak suka panggilan itu. Lagipula ini kan bukan sekolah, jadi aku tidak mau terlalu formal. Aku akan memanggilmu Lea saja. Apa kamu keberatan? Lalu kamu bisa memanggilku Evan saja. Cukup adil kan?" usul Evan. Lea sempat mengernyitkan dahi namun akhirnya dia mengangguk juga.
"Baiklah kalau itu maumu. Apa, sekarang bisa kita mulai pelajarannya?"
***
Rabu, Kamis dan Jumat. Pada hari-hari itulah setelah selesai kuliah, Lea tidak dapat langsung pulang ke rumah kostnya. Yang artinya sore hari pukul empat Lea harus sudah duduk manis di ruang tamu rumah Evan. Begitulah kesepakatannya.
Hari kamis pukul 3.55 sore. Jadi bisa kita tebak dimana Lea sekarang. Tepat! Di rumah Evan. Sore ini Lea tampak cantik meski mengenakan blouse vintage dan jeans dengan rambutnya yang hanya di kuncir kuda saja tanpa poni. Cewek itu memencet bel sekali. Dan tanpa menunggu lama, seseorang membukakan pintu. Evan. Ya. Aku tidak salah menulis. Benar-benar Evan sendiri yang membukakan pintu dan langsung mempersilakan Lea masuk dengan gaya santainya yang khas. Sore itu Evan masih tampak berseragam. Mungkin dia baru saja pulang.
"Orange juice? Atau Lemon tea?" tanya Evan.
"Terserah saja." jawab Lea.
"Aku heran kenapa semua cewek senang sekali dengan kata terserah." kata Evan sambil berlalu. Lea terkekeh pelan sambil melangkah ke arah sofa. Tetapi meja yang biasanya di pakai mereka untuk belajar kini sangat berantakan. Beberapa kertas berserakan. Dan pada salah satu sisi sofa, terlihat sebuah gitar tergeletak.
"Gitar!!" seru Lea dalam hati. Bola matanya membulat. Lea mengambil gitar itu dengan gerakan perlahan dan mencoba memainkannya. Lea hanya memetik beberapa senar dengan ragu. Dan memainkan jemari tangan kirinya membentuk sebuah chord yang dia tahu.
Lea berusaha memainkan gitar itu namun senyumnya berubah menjadi ekspresi datar.
"Aku sangat suka dengan benda ini. Dan bunyinya. Tapi sayangnya aku tidak pernah bisa memainkannya dengan baik. Sebagus apapun gitarnya, suaranya tetap saja akan terdengar aneh kalau aku yang memainkannya." batin Lea. Kini cewek itu meletakkan gitar Evan kembali ke tempat semula lalu mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan di atas meja.
"Maaf Le, berantakan." kata Evan sambil membawa orange juice melangkah mendekat ke arah Lea.
"Tidak masalah. Eh? Harusnya kamu tidak perlu membuatkanku minum." jawab Lea.
"Kamu harus terbiasa dengan ini." kata Evan. Lea mengernyitkan dahi.
"Terbiasa dengan apa? Kamu yang membuatkanku minum?" tanya Lea.
"Benar sekali. Dan.. kamu harus terbiasa dengan itu juga." jawab Evan. Pandangan matanya mengarah pada kertas-kertas yang sedang dibereskan Lea.
"Baiklaaah. Eh,by the way, ini apa? Apa kamu sedang mencoba membuat lagu?" tanya Lea.
"Ya begitulah. Aku senang membuat lagu dan bermain gitar." jawab Evan. Mata Lea tampak berbinar mendengar kata itu. Gitar.
"Benarkah? Kalau begitu.. Apa kamu bisa memainkan lagu untukku? Apapun itu. Aku senang melihat orang bermain gitar. Yaaaa?" pinta Lea dengan ekspresi memohon.
"Tidak semudah itu," jawab Evan. Lea memanyunkan bibirnya.
"Besok akan ada ulangan harian Matematika. Kalau kamu bisa membantuku menguasai materi Logika Matematika, dan nilai ulanganku mencapai 8 aku akan memainkan satu lagu di setiap akhir bimbingan belajar ini. Bagaimana?" lanjut Evan. Lea membenarkan ekspresi manyunnya dan berganti dengan senyum penuh semangat.
"Itu mudah asal kamu belajar dengan sungguh-sungguh! Setuju." jawab Lea. Evan melempar senyum.
"Aku janji. Ayo kita mulai." kata Evan.
***
Evan duduk di meja belajarnya. Mencoba mengulang kembali materi yang telah di berikan oleh Lea sore tadi. Tetapi justru ingatannya memutar sosok Lea dengan sangat sempurna. Senyumnya, ekspresi wajahnya, rambutnya, kesederhanaannya. Evan menyunggingkan senyum.
"Terima kasih Kak Vera. Awalnya aku hanya mau menuruti permintaanmu untuk mengikuti bimbingan belajar ini karena aku menyayangimu. Sekarang, aku semakin tahu hanya kakak yang selalu mengerti tentangku." batin Evan sebelum menutup bukunya. Dia sudah siap untuk ulangan besok pagi. Kali ini dia akan berjuang untuk bisa menyanyikan lagu untuk Lea. Konyol memang, sebenarnya ini tantangan yang dia buat untuk dirinya sendiri. Evan akan berjuang untuk cewek yang baru dua hari dikenalnya itu.
***
"Jangan bilang kalau kamu menyukai adik Vera!" seru Gisel. Lea buru-buru membekap mulut temannya itu.
"Bukan seperti itu. Aku tidak pernah mengatakan aku menyukainya kan?" kata Lea.
"Iya sih. Tapi dari cara kamu bercerita tentangnya, hanya itu yang aku tangkap. Aku tidak menyangka, kamu menyukai anak kecil." canda Gisel.
"Eh? Kamu jangan sembarangan. Aku tidak bilang begitu." dengus Lea kesal.
"Aku bisa menebaknya. Semua terlihat jelas. Dan oh. Bukannya selisih usia kalian hanya satu tahun? Itu artinya dia tidak terlalu anak kecil untukmu. Dari ceritamu aku bisa tahu kalian cocok." goda Gisel lagi. Lea mendengus.
"Aku menyesal bercerita kepadamu." kata Lea kepada Gisel yang masih menatap Lea dengan ekspresi jahilnya.
***
Lagi-lagi Evan membuatkan minum untuk Lea. Padahal bi Minah juga ada di rumah. Artinya kata-kata Evan kemarin memang benar. Lea harus terbiasa dengan hal ini.
"Terima kasih." kata Lea setelah lemon tea buatan Evan ditaruh di atas meja.
"Ini untuk permintaan maaf." jawab Evan. Ekspresi Lea sontak berubah. Evan memberikan kertas ulangannya kepada Lea dalam posisi terbalik.
"Apa kamu kecewa? Maaf." tanya Evan menunjukan ekspresi menyesal. Kemudian Lea melihat kertas ulangan itu. Ekspresi Lea sontak berubah melihat angka yang ada di sana.
"Ini benar-benar kamu yang mengerjakan? Bahkan kamu mendapat angka 9 Van! Kamu berhasil." kata Lea antusias. Senyum mengembang di bibirnya.
"Apa kamu baru saja menuduhku mencontek? Bukan aku tapi kita. Kita berhasil. Dan aku akan menepati janjiku." jawab Evan.
"Bukan begitu. Aku percaya kamu kok. Vera benar kalau kamu ini sebenarnya pintar. Hanya malas saja makanya nilaimu menurun." kata Lea.
Waktu satu setengah jam untuk belajar pun telah habis. Sekarang giliran Evan yang harus menepati janjinya. Cowok itu meraih gitar yang tergeletak di salah satu sisi sofa. Lea mengikuti arah mata Evan penuh perhatian. Evan mulai memainkan gitarnya. Perlahan tetapi dengan awal yang sangat indah. Alunan nada lagu Your Call dari Secondhand serenade terkemas apik lewat jemari Evan.
"Fingerstyle! OhGod. Evan bisa melakukannya!" pekik Lea dalam hati. Cewek pemilik nama Azalea itu terakhir kali tergila-gila pada sosok artis youtube bernama Nathan karena permainan gitarnya yang sangat memukau. Kali ini sosok dengan talenta yang sama ada di hadapannya. Lea terpukau dan sampai lupa bagaimana caranya bernafas !
Evan masih asik dengan permainannya dengan tatapan yang sesekali ke arah Lea. Dengan senyum di kedua matanya juga senyum di bibirnya. Sampai lagu hampir berakhir, tiba-tiba pintu rumah terbuka. Dan seseorang masuk. Ralat, bukan satu tetapi dua. Evan pun menghentikan gerakan jemarinya. Sedangkan Lea tampak terkejut. Ekspresi cerianya berubah seketika. Jantung Lea berdetak dua kali lebih cepat.
"Pizzaaaaaa!" seru Vera kepada adiknya. Buru-buru Evan menerima satu kotak pizza itu dari kakaknya.
"Tahu saja kalau kami lapar. Terima kasih,Kak Ver. Eh ada Kak Fino juga ternyata." kata Evan.
"Wah. Sepertinya ada yang baru saja menggelar konser nih." kata Vera.
"Ti-tidak. Ini hanya perayaan kecil untuk nilai ulangan Evan." jawab Lea berusaha tenang.
"Itu bagus! Ternyata adikku cepat pintar juga. Ini pasti karna gurunya cantik." goda Vera pada Evan. Cowok itu hanya tersenyum simpul. Sedangkan Lea masih terfokus pada sosok di hadapannya. Sosok yang berdiri di samping Vera.
"Ohya. Sayang kenalin ini Lea. Guru Privat Evan. Dan Le, ini Fino." kata Vera memperkenalkan keduanya.
"Pacar kak Vera." sambar Evan.
"Ohh.. hai Le, senang bertemu denganmu." kata Fino. Keduanya bersalaman.
"Eh tapi sepertinya aku mengenalmu. Apa kamu dulu sekolah di SMAN 12 Bogor? Ya benar! Aku mengingatmu. Dulu kita satu organisasi,kan?" tanya Fino. Lea memerjapkan matanya dua kali.
"Bukan! Eh maksudku, iya benar. Dulu kita satu sekolah." jawab Lea. Wajah Lea tampak memerah.
"Dunia memang sempit." kata Evan. Vera membenarkan.
"Bagaimana kalau aku pulang sekarang? Waktu belajar sudah selesai." kata Lea sambil buru-buru membereskan buku di atas meja dan mengambil tasnya. Lea terlihat salah tingkah.
"Nanti saja. Lebih baik kita duduk dulu dan makan Pizza bersama." jawab Vera. Evan memperhatikan ekspresi Lea dan merasa ada sesuatu yang aneh. Kali ini Evan tidak berniat menahan Lea lebih lama.
"Bagaimana kalau aku antarkan Lea pulang saja? Mungkin dia lelah, Kak. Makan Pizzanya kapan-kapan saja." kata Evan. Lea mengangguk pelan.
***
Evan, Vera dan Fino tampak sedang menonton film bersama di sebuah ruang keluarga rumah Evan. Ketiganya sangat akrab sampai bukannya menonton film yang diputar di hadapan mereka, tetapi mereka malah asik mengobrol sambil makan Pizza dan minum soda.
"Jadi kakak teman satu sekolah Lea?" tanya Evan.
"Ya begitulah. Tapi aku tidak begitu mengenalnya." jawab Fino.
"Kakak masih menyimpan album kelulusan SMA kakak dulu?" tanya Evan.
Evan merasa penasaran kenapa sikap Lea sangat berubah ketika melihat Fino. Evan merasa harus menyelidiki hal itu. Vera sontak ber'cie mendengar pertanyaan adiknya.
"Tanya saja pada kakakmu yang posesif itu." jawab Fino sambil menatap Vera dengan tatapan jenaka. Vera hanya membalas dengan menjulurkan lidah. Evan mengernyitkan dahi melihat pasangan di depannya.
"Sayangku Vera menyimpan album kenangan SMA kakak. Bahkan kamu tahu,Dek? Dia menyita semua surat-surat dari fans-fans kakak waktu SMA. Maklum lah, mungkin dia tidak ingin pacarnya yang dulu populer ini direbut fans." canda Fino dengan nada menyombongkan diri.
"Dih. Sok populer." dengus Vera. Fino sontak terkekeh.
"Kamu mau lihat album kenangan SMAN 12 Bogor, Dek? Tahun lalu kakak taruh di gudang. Kalau masih ada. Dengan box kumpulan surat dari fans kak Fino juga. Kak Vera sih belum sempat membacanya." kata Vera. Evan ber'oh dan mengangguk tanda mengerti.
***
Sabtu siang. Evan tampak sibuk mencari-cari kotak surat dan album kenangan SMAN 12 Bogor yang ditaruh Vera di dalam gudang satu tahun yang lalu. Gudang itu tampak berdebu tetapi ternyata tidak terlalu sulit untuk menemukan dua benda itu. Akhirnya Evan pun menemukannya dan membawanya ke dalam kamar.
Evan meniup debu yang menempel pada album di tangannya. Cowok itu membuka album perlahan dan mencari-cari biodata serta foto Lea di dalamnya. Tetapi dia tidak menemukan sesuatu yang begitu penting.
Hanya potret lugu Lea yang berukuran kecil dan juga biodata singkatnya. Sekarang pandangannya beralih ke sebuah kotak berbentuk persegi di depannya. Evan sempat berfikir tidak mungkin dia menemukan sesuatu tentang Lea di dalam kotak itu karena jelas-jelas itu hanya kotak yang berisi kumpulan surat tidak penting. Tetapi lalu Evan membuka kotak itu. Dia hanya membaca nama pengirim yang tertera pada amplop surat itu. Tiba-tiba Evan tertarik pada sebuah amplop kecil berwarna biru. Sebenarnya tidak ada yang menarik dari amplop itu, hanya saja itu adalah satu-satunya amplop yang tidak mencantumkan nama pengirim. Evan pun membukanya.
"To: Fino
Maaf aku mengganggumu. Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Aku menyukaimu! Aku menyukaimu sejak saat kita berada di ruangan yang sama. Ruang OSIS. Aku hanya anggota OSIS biasa yang mungkin tidak begitu kamu kenal. Tetapi aku tetap menyukaimu. Kamu ingat? Aku hampir terjatuh dari tangga saat aku sedang mendekorasi ruangan multimedia untuk acara pentas seni. Kamu menyelamatkanku. Ah, kamu mungkin telah melupakannya. Tetapi aku tetap mengingatnya. Sejak saat itu aku selalu tersenyum walau hanya melihatmu. Ini pertama kalinya aku tersenyum dengan hati yang juga berdebar bahagia. Senyuman ini untuk kamu.
-Azalea"
Evan terkekeh membaca surat yang menurutnya sangat lucu itu. Dia melipatnya kembali. Tetapi sesuatu menyadarkannya.
Azalea? Evan membuka surat itu kembali dan memastikan siapa nama pengirimnya.
"Benar! Aku tidak salah membaca. Azalea." batin Evan. Cowok itu meneliti surat itu lagi dan menyamakan tulisan itu dengan tulisan tangan Lea yang ada di dalam bukunya.
"Tepat. Mereka adalah orang yang sama!" pekik Evan dalam hati. Seketika sesuatu bergemuruh di hatinya dan perasaan tidak enak mengganggunya.
"Apakah Lea masih menyukai kak Fino sampai sekarang?" batin Evan.
***
"Apa? Fino??" tanya Gisel pada Lea yang sekarang duduk disampingnya.
"Ssst. Pelankan suaramu." jawab Lea.
"He eh. Maaf. Aku hanya kaget saja. Ternyata dunia ini begitu sempit. Bahkan aku baru tahu kalau pacar Vera adalah Fino. Selama ini aku hanya tahu bahwa pacar Vera kuliah di Bogor. Juga tidak tinggal di Jakarta." kata Gisel. Lea menarik salah satu sudut bibirnya.
"Aku juga sempat kaget. Jadi mungkin kemarin aku terlihat aneh. Tapi sebenarnya aku tidak lagi menyimpan perasaan apapun padanya. Kamu tahu itu." jawab Lea. Gisel melempar senyum.
"Ya. Aku sangat tahu kamu. Di hari kelulusan itu, setelah kamu menangis karna dia tidak membaca suratmu. Kamu meninggalkan perasaanmu juga di sekolah itu. Kamu tipe cewek yang berpemikiran luas." kata Gisel.
"Tepat." jawab Lea membenarkan.
"Jadi hari ini kamu libur mengajar?" tanya Gisel.
"Iya. Jadwalku kan hanya tiga hari dalam satu minggu." jawabnya.
"Kamu akan merindukan anak kecil bernama Evan itu." goda Gisel.
"Dia bukan anak keciiiil! Uh. Lagian kami masih bisa saling mengirim pesan." dengus Lea. Gisel terkekeh.
"Kamu baru saja membelanya. Daaaaaan, aku menangkap basah kamu mengaku saling mengirim pesan dengannya. Artinyaaa kamu dan dia benar-benar dekat." goda Gisel lagi. Lea mengerucutkan bibirnya tanda kesal karena digoda.
***
Tiga hari yang paling menyenangkan bagi Evan adalah Rabu, Kamis, dan Jumat. Hari-hari yang juga mendadak menjadi kesukaan Lea. Waktu berlalu begitu cepat. Secepat gerakan jemari Evan saat memainkan fingerstyle dengan gitarnya. Cowok itu benar-benar menepati janjinya. Di akhir kegiatan belajarnya dengan Lea, Evan selalu membawakan satu lagu untuk cewek itu. Selama telah hampir 3 bulan, Lea masih saja selalu terpukau dengan aksi Evan. Dan lagi, bukan hanya Rabu, Kamis,Jumat. Bahkan Sabtu, minggu pun keduanya kerap jalan bersama. Melakukan hal konyol atau sekedar pergi ke Cafe.
Waktu masih terus berjalan. Dari minggu ke minggu, sampai bulan ke bulan. Selama itu pula, Evan tidak pernah menanyakan tentang surat cinta Lea untuk Fino. Evan berfikir, membuat Lea bahagia dengannya lebih penting dari sekedar mengetahui perasaan Lea yang sebenarnya.
***
Ujian Nasional. Inilah tujuan kenapa Vera mengirimkan Lea untuk Evan. Vera ingin adiknya dapat mengerjakan soal-soal Ujian Nasional karena telah belajar dengan sungguh-sungguh. Dan akhirnya, Evan pun berhasil! Tiga hari yang menguras otaknya pun berlalu. Tidak terasa berat karena Lea selalu ada untuk memberi semangat.
Lalu hari ini pun tiba. Hari kelulusan Evan. Dua buah dilema besar masih membebani hatinya. Tentang pertanyaan apakah Lea masih menyukai Fino, dan tentang hal yang lebih besar dari itu.
"Satu jam lagi aku akan menjemputmu. Bersiaplah." kata Evan kepada Lea melalui ponselnya. Lea menerima ajakan Evan.
"Hari inilah saatnya." batin Evan.
***
Lea terduduk manis di salah satu meja cafe yang penuh dengan makanan pesanan keduanya. Cewek itu mengenakan jeans dengan blouse merah dengan sedikit aksesoris yang mempermanis penampilannya. Juga sebuah kotak berukuran tidak begitu besar yang diletakkannya di meja.
"Selamat ya. Kamu lulus dengan nilai yang bagus." kata Lea. Evan tersenyum menerima kotak itu.
"Terima kasih. Sekarang kamu tunggu di sini dulu ya?" pinta Evan lalu melangkah ke arah panggung cafe berkonsep outdoor itu dengan membawa gitarnya. Lea melihat Evan melangkah dengan penuh perhatian.
"Lagu ini untuk seseorang yang sangat spesial di sana. Azalea." kata Evan lalu mulai memetik gitar dengan jemarinya. Lea tertegun mendengar kalimat Evan.
"Spesial?" batin Lea. Cewek itu mencoba untuk tidak kepedean, tetapi hatinya tetap berdesir. Lagi-lagi Lea terpukau oleh Evan. Kali ini dengan lagu Goodbye dari Secondhand Serenade. Dengan suara yang tidak begitu bagus, Evan bernyanyi. Lirik-lirik yang terdengar sangat menyentuh itu membuat Lea menangis.
Namun ada sesuatu yang mengganggu pikirannya. Goodbye? Evan menyanyikan lagu itu dengan penuh penjiwaan seolah ingin benar-benar menyampaikan makna lagu itu kepada Lea. Cewek itu dapat merasakan lewat tatapan mata Evan. Dan ketika lagu selesai, semua pengunjung cafe bertepuk tangan. Sedangkan Lea masih membeku saat Evan melangkah mendekatinya. Evan tersenyum, tetapi tidak dengan kedua matanya. Lea mencoba menenangkan diri dari pikiran-pikiran negatifnya dan tersenyum ke arah Evan.
"Kamu selalu membuatku terpukau." kata Lea.
"Sekarang, ayo kita makan. Aku akan membuatmu bahagia setelah ini. Kita akan jalan-jalan." jawab Evan. Lea mengangguk pelan.
***
(Dua hari kemudian)
Lea duduk di bangku sebuah taman. Sendirian. Tak peduli dinginnya malam itu, tak peduli bulan purnama menatapnya miris. Lea memetik sebuah gitar dengan jemarinya. Walaupun nada yang terdengar jauh dari sempurna, Lea masih tetap memainkan gitar itu dengan pandangan yang menerawang ke segala arah.
Lea mengingat moment-moment hari itu. Saat Evan menepati janjinya untuk membuatnya bahagia. Mereka bahagia seharian. Di hari kelulusan Evan.
Sampai suatu pagi. Tepatnya kemarin pagi. Saat Lea membuka pintu kamar tempat kostnya. Cewek itu menemukan sebuah gitar dan sebuah amplop merah berukuran kecil. Lea mengenal gitar itu sangat baik karena itu adalah gitar Evan. Lea masuk kembali ke dalam kamar dan membaca surat yang ada di dalam amplop itu.
"To: Azalea
Seharusnya aku mengatakan ini langsung kepadamu. Tetapi aku tidak sanggup. Jadi kemarin aku mengatakannya lewat sebuah lagu. Apa kamu bisa merasakannya? Le, maafkan aku. Sekarang mungkin aku sudah di dalam pesawat menuju suatu tempat. Tepatnya menuju London. Le, Ayahku menyuruhku untuk kuliah dan tinggal bersamanya di sana. Walaupun aku tidak mau, tapi aku tetap pergi. Aku tidak ingin kak Vera yang selama ini menjadi kakak sekaligus pengganti ibu,jadi disalahkan papa kalau aku tidak menuruti permintaannya. Le, aku janji akan secepatnya menyelesaikan ini. Dan oh, aku mohon jaga gitarku. Aku yakin kamu lebih bisa dengan baik menjaganya daripada siapapun. Terima kasih untuk segalanya, Azalea..
-Evan"
Pandangan mata Lea masih menerawang ke arah kertas yang di pegangnya. Meski sekarang pandangan itu sudah buram karena terhalang cairan bening di matanya yang perlahan menetes tepat saat Lea mencapai pertengahan surat. Lea terisak.
***
Siang ke tujuh setelah hari dimana Lea mendapatkan surat itu, dia masih saja tidak mau lepas dari gitar Evan dan selalu membawanya kemana-mana. Bahkan saat ini, detik ini, di bangku taman kampusnya- Lea membisu dan sekali-kali memainkan gitar. Gisel menatap teman baiknya itu dengan kesal.
"Apa kamu tahu? Sekarang kamu lebih mirip zombie daripada manusia." kata Gisel geram. Dia ingin Lea yang dulu kembali.
"Apa aku terlihat separah itu?" tanya Lea dengan polosnya.
"Le? Ayolah. Jangan seperti ini. Semuanya akan baik-baik saja. Atau, hmm aku punya ide! Bagaimana kalau kamu menyusulnya saja ke London." jawab Gisel. Kali ini Gisel menyarkan kepalanya di bahu Lea dan mengamit lengannya. Tetapi Lea melepaskannya.
"Apa? Kamu gila. Bahkan kalau kisahku ini dijadikan sebuah novel atau cerpen, kalau aku menyusul Evan ke London bisa jadi pembaca akan mengernyitkan dahi dan berfikir. 'Hah? Semudah itukah?' Sel, ide konyolmu itu tidak akan pernah terwujud." kata Lea lalu mendengus kesal. Gisel tersenyum melihat Lea tidak lagi berbicara dengan nada frustasi.
"Nah begitu. Kamu sedikit lebih hidup kalau sedang kesal. Ayo, sekarang ikut aku ke rumah Vera. Aku temani kamu mengambil bukumu yang tertinggal di sana. Tadi pagi Vera menelfonku karna nomormu tidak aktif. Dia bilang kamu harus mengambil buku itu hari ini." kata Gisel sambil menarik tangan Lea.
"Buku? Aku tidak merasa kehilangan buku." jawab Lea. Namun kemudian cewek itu menurut saja ketika Gisel menarik tangannya.
***
Lea dan Gisel di persilakan masuk oleh bi Minah. Keduanya melangkah masuk ke dalam rumah yang tampak sepi itu.
"Bi, bolehkah aku menumpang ke toilet sebentar? Le, tunggu aku sebentar ya." kata Gisel tiba-tiba. Lea berdecak heran. Namun bi Minah pun segera menunjukan jalan kepada Gisel ke arah toilet dan meninggalkan Lea sendirian. Lea memutuskan untuk duduk. Dia melangkah mendekat ke arah sofa. Masih dengan gitar yang di bawanya. Lea sama sekali tidak merasa ada yang aneh sampai dia menemukan sebuah notebook tebal di atas meja. Lea tertegun melihat notebook yang terbuka itu.
"Ini kan notebook pemberianku untuk Evan? Kenapa ada di sini? Apakah dia sengaja meninggalkannya?" batin Lea.
Dengan gerakan perlahan,dia mengambil notebook itu dan membaca tulisan yang ada di sana.
"(Song) -Melodyku-
Aku memandangimu..
Dengan melody gitarku menjadi musik latarnya.
Kamu..
Jika kau butuh satu detik untuk berkedip
Satu jam pun kurasa tak cukup untuk bersamamu.
Aku..
Pabila kata iya mampu menjawab ribuan tanya.
Aku hanya butuh diam.
Tak pedulikan ribuan tanya.
Karena rasa peduli,perhatianku..
telah kau sita penuh.
Dan kamu satu. Melodyku..
Yang banyak itu menjadi tak penting lagi.
Kamu..
Yang kini ku rindukan.
Aku,
Masih memandangimu.
Dengan melody gitarku menjadi musik latarnya.
Kamu melodyku.
Aku merindukanmu."
"Apakah ini sebuah lagu?" batin Lea.
Dia membaca bait-bait kalimat itu sekali lagi. Namun seperti mengandung kekuatan magis, tulisan itu mengeluarkan suara. Suara dari seseorang yang Lea kenal. Evan! Cowok itu melangkah mendekat ke arah Lea sambil menyanyikan sebuah lagu. Lagu dengan lirik yang sama persis seperti tulisan yang dibaca Lea. Lagu yang dibuat Evan untuk cewek di hadapannya itu. Lea membeku menatap Evan mendekat lalu Evan mengambil gitar yang tergeletak di sofa.
Kali ini Evan bernyanyi dengan gitarnya. Lagi-lagi dengan fingerstyle yang sanggup memukau Lea. Cewek itu masih memperhatikan Evan sampai tak sadar airmata bahagia menetes di pipinya. Senyum Lea mengembang.
"Aku disini." kata Evan ketika lagu itu berakhir.
"Bagaimana bisa?" tanya Lea spontan.
"Apa begitu caramu mengungkapkan kerinduanmu pada seseorang?" tanya Evan. Lea tersenyum.
"Bukan begitu. Aku hanya terkejut saja tadi. Aku merindukanmu. Tapi.. Aku masih tidak percaya kamu di sini. Aku khawatir aku hanya sedang bermimpi." jawab Lea. Evan terkekeh.
"Tidak. Ini bukan mimpi. Di sana aku menjelaskan alasanku tidak ingin kuliah di London kepada papa, dan papa mengerti. Bahkan aku sudah memutuskan akan kuliah satu kampus denganmu." kata Evan. Lea semakin terkejut mendengarnya.
"Dan ini? Kapan kamu membuatnya?" tanya Lea sambil menunjuk notebook yang dia pegang.
"Saat aku di sana. Dan oh ya jangan khawatirkan Gisel. Dia sudah pulang lewat pintu belakang. Dia bagian dari rencana ini." kata Evan. Lea mendengus karena merasa telah dicurangi.
Evan mengambil sesuatu dari saku jeansnya. Dia memberikan sebuah amplop biru itu kepada cewek di hadapannya. Lea mengernyitkan dahi.
"Darimana kamu mendapatkan ini?" tanya Lea sedikit terkejut.
"Tidak penting. Sekarang, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu-tentang ini. Apa kamu masih menyimpan perasaan untuk Fino?" tanya Evan hati-hati. Lea tersenyum lalu menyobek surat itu.
"Tidak. Aku tidak lagi menyimpan perasaan untuknya." jawab Lea yakin. Evan pun menarik kedua sudut bibirnya.
"Aku percaya." jawab Evan.
"Jadi, kamu sekongkol dengan Gisel?" tanya Lea.
"Bukan hanya Gisel. Yang lain juga tahu tentang ini." jawab evan.
"Yang lain? Vera dan Fino?" tanya Lea.
"Iya kak Fino juga tahu. Eh? Jadi kamu masih mengingat nama itu?" canda Evan. Lea mendengus.
"Siapa bilang aku telah melupakannya? Aku hanya telah dapat mengingatnya tanpa merasa apapun." jawab Lea. Evan menyipitkan matanya dan menciptakan tatapan menyelidik ke arah cewek di hadapannya itu.
"Kalau kamu ketahuan bohong,berani apa?" tanya Evan. Lea terkekeh kecil.
"Lompat dari atas Monas. Kalau aku terbukti jujur, kamu berani apa?" tanya Lea. Evan berekspresi seolah sedang berfikir keras.
"Aku tidak berani apapun. Menyatakan cinta kepadamu saja aku belum berani." jawab Evan. Kalimat Evan membuat Lea menyernyitkan dahi.
"Maksud kamu?" tanya Lea.
"Eh? Apa baru saja aku keceplosan? Apa aku sudah bilang kalau aku akan menyatakan cinta kepadamu?" jawab Evan lalu melempar senyum penuh arti.
Lea membenarkan ekspresi polosnya dan menarik kedua sudut bibirnya membentuk sebuah senyum yang dulu sempat Lea miliki. Senyum yang dia sebutkan untuk Fino satu tahun yang lalu dalam sebuah suratnya dulu. Gadis itu mendapatkan senyum penuh kebahagiaan itu kembali. Senyum yang disertai desir bahagia di dadanya.
***THE END***



Semoga bermanfaat Cerpen saya kali ini.....
untuk dapat melihat kumpulan cerpen saya lainnya silahkan lihat pada kumpulan cerpen 
Hanya di Esswe Zone


Guitar | Kumpulan Cerpen Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Esswe Zone

No comments:

Post a Comment